Mengenal Perjanjian Paris: Tonggak Penting dalam Penanggulangan Perubahan Iklim di COP28

Tujuan utama Perjanjian Paris adalah menjaga pemanasan global di bawah 2 derajat Celsius, dengan upaya maksimal mencapai kenaikan hanya 1,5 derajat Celsius

Mengenal Perjanjian Paris: Tonggak Penting dalam Penanggulangan Perubahan Iklim di COP28
Ilustrasi. Isi kesepakatan Perjanjian Paris kembali digaungkan di tengah-tengah Bumi yang kian memanas.

Cydem.co.id' Jakarta - Isi kesepakatan Perjanjian Paris kembali menjadi sorotan dalam Konferensi Iklim COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab, dengan fokus pada upaya membatasi kenaikan suhu global. Perjanjian ini, diadopsi pada COP21 di Paris pada 2015, melibatkan 196 negara dan bertujuan menjaga pemanasan global di bawah 2 derajat Celsius, dengan target lebih ambisius pada 1,5 derajat Celsius. Saat ini, implementasi Perjanjian Paris membutuhkan rencana tindakan iklim yang terukur secara nasional (NDC) dari masing-masing negara, dengan peninjauan dan penguatan target setiap lima tahun.

Salah satu poin kunci Perjanjian Paris adalah urgensi membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celsius pada 2030. Namun, data hingga Oktober menunjukkan kenaikan suhu lebih cepat dari perkiraan, mencapai 1,4 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri. Hal ini menimbulkan keprihatinan atas dampak perubahan iklim yang semakin parah, termasuk kekeringan, gelombang panas, dan curah hujan ekstrem.

Dalam kerangka kerja Perjanjian Paris, negara-negara diharapkan mengajukan NDC, yang mencerminkan komitmen mereka untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan membangun ketahanan terhadap dampak perubahan iklim. Para pemimpin dunia telah menekankan perlunya membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celsius pada akhir abad ini, mengingat risiko dampak yang lebih parah jika melebihi ambang batas tersebut.

Sejak tahun 2020, negara-negara telah mengajukan rencana aksi iklim nasional mereka, yang secara teratur ditingkatkan untuk mencapai tingkat ambisi yang lebih tinggi. Dalam perkembangan terbaru, COP28 telah menekankan perlunya meninjau dan memperkuat target 2030 dalam NDC untuk mencapai sasaran suhu Perjanjian Paris pada 2023.

Selain mengenai mitigasi, Perjanjian Paris juga menekankan perlunya pendanaan iklim untuk membantu negara berkembang menghadapi tantangan perubahan iklim. Pendanaan iklim mencakup dukungan finansial dan transfer teknologi dari negara maju ke negara berkembang. Perjanjian ini menggarisbawahi pentingnya transparansi dan pelaporan, dengan kerangka kerja transparansi yang ditingkatkan untuk melaporkan kemajuan mitigasi, adaptasi, dan dukungan keuangan.

Dengan begitu banyak aspek yang terlibat, implementasi Perjanjian Paris menjadi langkah besar dalam proses global untuk mengatasi krisis iklim. Evaluasi secara berkala melalui proses peninjauan dan peningkatan target memberikan fleksibilitas dan responsibilitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan kesepakatan tersebut. Sebagai tonggak penting dalam penanggulangan perubahan iklim, Perjanjian Paris terus menjadi landasan untuk tindakan iklim global di COP28 dan di masa depan.