Baliho 'Alumnus Paling Membanggakan' Jokowi Berkembang di UGM: Respons BEM UGM

Kontroversi ini memberikan sorotan pada pemahaman dan penafsiran perbedaan pandangan di kalangan mahasiswa UGM

Baliho 'Alumnus Paling Membanggakan' Jokowi Berkembang di UGM: Respons BEM UGM
Sepekan setelah baliho berisi kritikan terhadap Presiden Jokowi muncul, baliho serupa dipasang di kawasan Universitas Gadjah Mada dan kali ini berisi pujian.

Cydem.co.id' Jakarta - Sebuah baliho kontroversial berukuran besar menghiasi Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan gambar Presiden Joko Widodo (Jokowi), menjadi titik fokus perdebatan antara Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM dan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa UGM (BEM KM UGM). Baliho tersebut muncul sebagai respons terhadap baliho sebelumnya yang ditempatkan oleh BEM KM UGM pada 8 Desember, menyebut Jokowi sebagai 'Alumnus UGM Paling Memalukan.'

Baliho baru tersebut memiliki dimensi 4x3 meter dan menampilkan tulisan 'BEM UGM Present: Penyerahan Nominasi Alumnus UGM Paling Membanggakan (Presiden Pertama dari UGM)'. Pada saat yang sama, baliho yang dipasang oleh BEM KM UGM sebelumnya menampilkan tulisan 'BEM KM UGM Presents: Penyerahan Nominasi Alumnus UGM Paling Memalukan. Mr. Joko Widodo.'

Sebelum baliho 'membanggakan' tersebut terpasang, undangan aksi penyerahan nominasi dari BEM UGM telah beredar di berbagai grup WhatsApp wartawan. Aksi tersebut dijadwalkan dimulai pada pukul 14.00 WIB di kawasan bundaran UGM, tetapi hingga menjelang waktu maghrib, aksi tersebut belum terlaksana dan lokasi terpantau sepi.

Feri Cadang, yang disebut sebagai Ketua BEM UGM, menyatakan telah menarik diri dari aksi tersebut dengan alasan menilai sebagian hal kontraproduktif terhadap gerakan yang seharusnya. Meskipun demikian, baliho tersebut akhirnya terpantau sudah terpasang.

Gielbran M. Noor, Ketua BEM KM UGM, membantah keterlibatan organisasinya dalam baliho 'membanggakan' dan mengklaim tidak mendapatkan informasi terkait hal tersebut. Kontroversi ini memperlihatkan ketegangan antara kelompok mahasiswa terkait pandangan terhadap Jokowi, dengan masing-masing pihak menunjukkan respons dan tindakan yang berbeda.

Pada akhirnya, baliho dan perdebatan terkait menimbulkan pertanyaan tentang dinamika kebebasan berekspresi dan perbedaan pendapat di kalangan mahasiswa UGM, menciptakan diskusi yang lebih luas di ranah publik.